Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang akrab
dikenal dengan Buya HAMKA tentu tidak asing didengar baik dilingkungan akademis
maupun non akademis. Beliau adalah seorang ulama, sastrawan, pelaku sejarah
juga politikus yang memiliki peran penting dimasanya bahkan sampai sekarang
karyanya pun masih dapat dinikmati dan mungkin akan terus dinikmati dan
diminati.
Membahas mengenai Buya HAMKA, penulis mencoba
untuk menghubungkan keterkaitan sosok Buya HAMKA dengan materi pembelajaran
Ilmu Budaya Dasar.
“Buya HAMKA : Antara Manusia dan Kebudayaan”.
A.
Manusia
Manusia di alam dunia memegang peranan yang unik
dan dapat dipandang dari banyak segi.
Pun begitu dengan Buya HAMKA, beliau merupakan satu diantaranya. Menilik
dari sejarah pendidikan yang diemban, HAMKA
hanya mencicipi bangku kelas 2 sekolah dasar lalu memasuki usia ke 10
tahun, ia mempelajari ilmu agama dan memperdalam bahasa Arab di Sumatera
Thawalib yang didirikan oleh ayahnya di Padang Panjang, Sumatera Barat. Selebihnya HAMKA belajar secara otodidak dari
satu surau ke surau lain. Bahkan demi memenuhi hasrat pengetahuannya terlebih
tentang ilmu agama islam, ia sampai harus merantau jauh ke Jawa kala itu usinya
masih 16 tahun.
Dalam ilmu-ilmu sosial, manusia terbagi atas
beberapa kriteria diantaranya makhluk ekonomi, makhluk sosial, makhluk (yang
selalu ingin punya kekuasaan) politik, makhluk budaya dan lain sebagainya.
HAMKA sebagai makhluk ekonomi memiliki pekerjaan
sebagai penulis, editor majalah ataupun surat kabar selama masa hidupnya hingga
akhirnya terjun ke politik. Sebagai makhluk sosial, HAMKA merupakan sosok yang
mudah beradapatasi di lingkungan sosial yang baru, sebut saja setelah ia tiba
untuk pertama kalinya di Pulau Jawa ia bergabung dengan Sarekat Islam dibawah
pimpinan HOS Tjokroaminoto dan menimba ilmu disana. HAMKA terjun ke dunia
politik, namun bukan berarti HAMKA haus kekuasaan politik. Ia terpilih menjadi
anggota Dewan Konstituante mewakili Partai Masyumi. Adapun ia berpolitik agar
dapat kesempatan untuk memperjuangkan Syariat Islam menjadi dasar negara
bersama tiga orang lainnya yakni Mohammad Natsir, Mohammad Roem, dan Isa
Anshari. HAMKA sebagai makhluk berbudaya dapat dikenali dari karyanya seperti
Novel dan Roman, ia cakap dalam berbahasa Arab dan tak jarang dapat mengalih-bahasakan
karya ulama dan pujangga besar timur tengah.
HAMKA sebagai manusia hampir memiliki dan
memenuhi semua kriteria yang ada pada ilmu-ilmu yang disebutkan diatas.
B.
Hakekat Manusia
a.
Makhluk ciptaan Tuhan yang terdiri dari tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan
yang utuh.
Tidak bisa dipungkiri, HAMKA hanyalah seorang
manusia biasa, tubuh yang dahulu tampak kuat dalam mengemban amanah dan tugas
kini lenyap tak bersisa karena pada hakikatnya tubuh adalah materi yang dapat
dilihat, diraba, dirasa berwujud konkrit namun tidak abadi. Berbeda dengan tubuh, Jiwa pada diri HAMKA
abadi dan dapat ‘diwariskan’ kepada HAMKA-HAMKA generasi berikutnya melalui
tulisan, pemikiran dan karya yang telah dilahirkannya.
b.
Makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, jika dibanding dengan makhluk
lainnya.
Jika kesempurnaan disini terletak pada adab dan
budayanya, juga karena manusia dilengkapi oleh akal, perasaan dan kehendak yang ada dalam jiwanya. Sosok HAMKA akan
masuk dalam hitungan terlepas dari tidak ada satupun manusia yang sempurna.
HAMKA mampu menjadi anggota dewan konstituante, ulama, sastrawan karena kemauan
beliau untuk memperdalami ilmu. Dengan perasaan dan kecintaan terhadap budaya
ia berhasil menelurkan karya tulis berupa novel dan semacamnya.
Perasaan luhur yang terdapat pada diri manusia
dimana secara otomatis dimiliki pula oleh HAMKA adalah :
- Perasaan Intelektual : Perasaan ini tertanam dalam diri HAMKA, demi memperdalam ilmu pengetahuan ia harus datang dari satu surau ke surau lainnya, bahkan ia sampai hijrah ke Pulau Jawa hingga ke Mekkah demi mengasah bahasa arabnya.
- Perasaan Estetis : HAMKA sangat suka menulis dan beliau telah melahirkan beberapa karya tulis yang cukup dikenal. Bahkan beberapa tahun belakang tulisannya yang berbentuk novel diadaptasi ke layar lebar oleh sineas.
- Perasaan Etis : HAMKA dikenal sebagai seorang moderat. Tidak pernah ia berkata keras, apalagi kasar dalam berkomunikasi. Beliau lebih suka memilih menulis roman atau cerpen dalam menyampaikan pesan mora islam.
- Perasaan Diri : Perasaan ini terlihat ketika HAMKA menjabat sebagai Ketua MUI, kala itu ia mengeluarkan fatwa yang melarang perayaan natal bersama. Menteri Agama Alamsyah Ratuprawiranegara meminta MUI mecabut fatwa tersebut, namun dengan pendirian yang kuat, HAMKA menolak keinginan tersebut. Bagi beliau, lebih arif mundur daripada mencabut apa yang telah ia keluarkan.
- Perasaan Sosial : perasaan ini masih berhubungan dengan perasaan diri diatas, selain alasan HAMKA mundur dari Jabatan Ketua MUI adalah pendirian kuatnya mempertahankan fatwa, beliau juga mendengar kabar kalau Menteri Agama Alamsyah Ratuprawiranegara berniat mengundurkan diri dari jabatannya karena ‘gagal’ meredakan sentimen antar agama. HAMKA tidak ingin orang lain ikut merugi atas dirinya.
- Perasaan Religius : HAMKA sebagai seorang ulama tentu paham perintah agamanya. Beliau aktif dalam memberikan pengajaran melalui tulisan-tulisannya di surat kabar seperti Panji Masyarakat.
c.
Makhluk biokultural, makhluk hayati yang budayawi
Sebagai makhluk hayati, HAMKA seperti kebanyakan
manusia pada umumnya tidak ada yang berbeda. Jadi untuk mempelajari HAMKA
sebagai makhluk hayatai dari segi anatomi, fisiologi dsb tidak perlu sampai
jauh dilakukan. Berbeda jika mempelajari HAMKA sebagai makhluk budayawi, akan
ada banyak hal yang didapat, sumbernya dari mana? Mudah saja. Sumber bisa
diperoleh dari karya tulisnya serta biografinya. Semua segi dapat ditangkap
bahkan diterapkan.
d.
Makhluk ciptaan Tuhan yang terikat dengan lingkungan ( Ekologi ), mempunyai
kualitas dan martabat karena kemampuan bekerja dan berkarya.
Hidup manusia memiliki tiga taraf, yaitu
estetis, etis dan religius. Penulis mencoba mencocokan tiga taraf ini kepada
diri HAMKA.
- Taraf Estetis; HAMKA mampu memperoleh ilmu hanya dengan otodidak, belajar dengan banyak guru tanpa memikirkan jenjang /kelas seperti siswa pada umumnya, baginya bergabung dengan Sarekat Islam adalah belajar, ikut organisasi muhammadiyah juga belajar sampai ia menunaikan Haji ia sempatkan untuk belajar. Sehingga dengan semua ilmu yang didapat ia dipercaya untuk mengisi kursi dewan konstituante, menjabat ketua muhammadiyah dan menjabat menjadi Ketua MUI. HAMKA semasa hidupnya pula bekerja sebagai wartawan dan membawanya menjadi penulis serta editor surat kabar. Menghasilkan karya tulis baik itu cerpen, novel atau roman.
- Taraf Etis; HAMKA berpendirian kuat, baginya apa yang baik atau buruk oleh agama ia tidak pertanyakan tetapi ia jalankan. Hal ini yang membuatnya selalu bersebrangan dengan Pemerintah saat itu dan sering menimbulkan gesekan. Sebagai contoh perihal Fatwa tentang natal dan fatwa haram bagi Presiden Soekarno untuk menikah lagi. Menurut HAMKA ada batasan baik dan buruk itu seperti apa karena beliau mengacu pada ajaran agama islam.
- Taraf Religius; HAMKA ketika sudah tak disibukkan lagi dengan urusan-urusan politik, mengisi hari-harinya dengan kuliah subuh di Masjid Al-Azhar.
C.
Kepribadian Bangsa Timur
HAMKA jauh dari kepribadian bangsa timur tetapi
bukan berarti beliau tidak memiliki kepribadian bangsa timur.
- HAMKA tidak takut salah dan ‘dimarahi’ meskipun oleh seorang pemimpin negara, hal itu telihat dari beberapa peristiwa seperti fatwa haram menikah lagi bagi presiden, kritikan tajam terhadap demokrasi terpimpin yang dijalankan oleh Presiden Soekarno melalui majalah Panji Masyarakat milinya dimana sebagai puncaknya, majalah tersebut dibredel oleh presiden.
- HAMKA tidak pernah sungkan untuk mengemukakan pendapatnya, perihal respon positif atau negatif yang akan diterima pasti ada ia tidak sungkan. Seperti fatwa perayaan natal bersama, disatu sisi HAMKA ingin melindungi akidah umat islam namun di sisi lain HAMKA ingin memberi gambaran toleransi antar umat beragama. Meski pada akhirnya ia harus rela meninggalkan kursi ketua MUI.
- HAMKA tidak malu menyuarakan aspirasinya agar negara mau menjalankan Syariat Islam meski banyakan kecaman dari pihak pro nasionalis atau komunis. Memang tidak mudah, butuh lebih dari keberanian untuk itu. Hal itu tsb mendorong ia untuk terjun ke dunia politik.
- HAMKA bukanlah pendendam, salah satu sifat bangsa timur, terbukti ketika presiden soekarno meninggal, HAMKA lah yang mengimami solat jenazahnya. Padahal semasa hidupnya, Soekarno memiliki masalah dengan HAMKA. Mulai dari pembubaran Partai Masyumi, Pembredelan Majalah Panji Masyarakat, hingga dipenjarakannya HAMKA oleh Presiden Soekarno.
Demikian lah gambaran sosok
Buya HAMKA dalam Manusia dan kebudayaan. Apabila ada salah tulis mengenai
peristiwa atau tokoh yang terlibat, penulis mohon maaf.
Refferensi :
http://bio.or.id/biografi-buya-hamka
http://www.voa-islam.com/read/citizens-jurnalism/2013/12/25/28335/buya-hamka-tekanan-untuk-cabut-fatwa-haram-natal-mui-1981/#sthash.z1ye1qNf.dpbs
https://id.wikipedia.org/wiki/Abdul_Malik_Karim_Amrullah
