I. Buya Hamka
: Manusia dan Cinta Kasih
Sebelum
penulis menulis lebih jauh mengenai keterikatan Buya Hamka dengan Manusia dan
Cinta Kasih ada baiknya kita mengetahui apa itu cinta kasih.
A. Pengertian
Cinta Kasih
Secara
garis besar, cinta kasih mengandung arti yang hampir bersamaan. Namun terdapat
pula perbedaan antara keduanya. Cinta lebih mengandung pengertian mendalamnya
rasa, sedangkan kasih sesuatu yang bersumber dari cinta yang mendalam.
Cinta
merupakan landasan dalam kehidupan perkawinan, pembentukan keluarga dan
pemeliharaan anak, hubungan yang erat dimasyarakat dan hubungan manusiawi yang
akrab. Cinta berlaku tidak hanya antar manusia namun juga antara manusia dengan
Tuhannya, dengan menyembah-Nya secara ikhlas, mengikuti perintah-Nya dan
berpegang teguh pada syariat-nya itulah cara manusia mencintai Tuhannya.
Lalu
apa yang bisa diambil atau disadur dari pengertian tersebut dan bagaimana kita
mengaitkannya dengan Buya Hamka?
Tentu
saja sebagai manusia, Buya Hamka pernah merasakan indahnya jalinan cinta kasih
baik itu kepada anak-istrinya, keluarga kerabatnya, dan terlebih kepada
Tuhannya. Karena Poin terakhir ini lah
penulis tertarik dengan sosok Buya Hamka, berharap suatu hari nanti bisa meniru
keteladannya.
Well,
agar tidak keluar dari jalur materi yang telah ditetapkan, penulis akan menuliskan
Buya Hamka point per point seperti yang tertulis di materi.
B. Cinta
Menurut Ajaran Agama
Dalam
kehidupan manusia, cinta menampakkan diri dalam berbagai bentuk. Kadang-kadang
seseorang mencitai dirinya sendiri, kadang-kadang mencintai orang lain,
hartanya, hingga Tuhannya. Pun begitu dengan Buya Hamka sudah kodratnya sebagai
manusia memiliki beliau cinta.
Cinta Diri
Cinta
diri erat kaitannya dengan dorongan menjaga diri. Manusia senang untuk tetap
hidup, mengembangkan potensi dirinya dan mengaktualisasikan diri.
Jika
kita melihat sosok Buya Hamka mencintai diri dengan pernyataan yang tertulis
diatas, rasanya tidak salah kalau Buya Hamka cinta akan dirinya, akan tetapi
hal itu tentu saja menjurus kearah yang positif seperti cinta akan dirinya
digunakan untuk mengembangkan potensi diri.
Buya
Hamka merupakan seorang pembelajar otodidak dalam berbagai bidang ilmu
pengetahuan. Buya Hamka mengenyam bangku sekolah dasar pada tahun 1915 saat itu
usianya 7 tahun. Namun, Buya Hamka di sekolah dasar hanya sampai tingkat dua.
Pada usia 10 tahun, Buya Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa arab di
Sumatera Thawalib (semacam pondok pesantren) yang didirikan oleh Ayahnya, Haji
Rasul. Selain itu, Buya Hamka juga mengikuti pengajaran agama disurau dan
masjid yang diberikan oleh ulama-ulama terkenal.
Merasa
ilmu yang dimilikinya masihlah sedikit, Buya Hamka pergi merantau ke Pulau Jawa
pada tahun 1924 untuk menimba ilmu. Saat itu usianya menginjak 16 tahun. Ia
tiba di Yogyakarta, diperkenalkan dengan Sarekat Islam (SI), menjadi salah satu
anggota dan belajar mengenai gerakan islam modern langsung dibawah bimbingan
HOS Tjokroaminoto.
Tidak
sampai disitu, rasa penasaran Buya Hamka akan luasnya pengetahuan, terutama
pengetahuan tentang agama, membuat Buya
Hamka semakin ingin menggali potensi dirinya lebih dalam. Dan akhirnya ia
memutuskan untuk menimba ilmu di Mekkah pada tahun 1927. Sambil menyelam minum
air, Buya Hamka mendapatkan apa yang ia inginkan, ia berhasil menunaikan ibadah
haji dan berkesempatan memperdalam ilmu agama di Tanah Suci dibawah bimbingan
ulama-ulama terkemuka.
Berbagai pengetahuan yang ia
pelajari adalah bukti cinta kepada dirinya, dimana dengan ilmu tiadalah akan
bersusah di lain waktu. Buktinya dengan ilmu yang dimiliki, ia dapat berbagi
dengan orang lain, selain itu Buya Hamka dapat melahirkan karya-karya tulis yang masih dapat dinikmati
hingga saat ini.
Cinta
kepada sesama manusia
Cinta kepada sesama manusia
dilakukan agar manusia dapat hidup dengan penuh keserasian dan keharmonisan
dengan manusia lainnya. Tidak boleh tidak ia harus membatasi cintanya pada diri
sendiri dan egoism.
Cinta kepada sesama manusia
dilakukan oleh Buya Hamka salah satunya kepada lawan politiknya sebut saja
diantaranya adalah Presiden Soekarno , Moh. Yamin dan Pramudya Ananta Tur.
Buya Hamka bukanlah tipikal
pendendam, beliau pemaaf bahkan sebelum orang tsb meminta maaf sudah beliau
maafkan.
Kisah
Buya Hamka dengan Presiden Soekarno.
Buya Hamka pernah ditahan selama Dua tahun 4 Bulan (1964 – 1966) atas tuduhan
perencanaan pembunuhan presiden. Buya tidak menaruh dendam bahkan ia rela
mendekam. Berat memang, tapi untuk melawan rezim tangan besi saat itu apa yang
beliau bisa perbuat, semuanya diserahkan ke pada Allah SWT. Buya bebas setelah
rezim Soekarno jatuh dan digantikan oleh Soeharto. Kehidupan Buya kembali sedia
kala.
Pada tanggal 16 juni 1970,
buya mendapat kabar kalau Mantan Presiden Soekarno telah berpulang ke
Rahmatullah dimana ia juga mendapat amanat dari Soekarno melalui keluarga agar
“bila kelak ia mati, minta kesediannya menjadi imam shalat jenazahnya”.
Tanpa ragu, Buya dengan
ikhlas menerima amanat dari Soekarno dan melaksanakannya. Bukti cinta Buya
Hamka kepada sesame manusia. (dikutip dari Kisah-Kisah Abadi Bersama Ayahku
Hamka).
Kisah
Buya Hamka dengan Moh. Yamin.
Berasal dari daerah yang sama, namun keduanya memilik perbedaan ideologi. Buya
Hamka yang berlandaskan islam sedangkan Moh. Yamin dengan Pancasilanya.
Kejadian bermula saat sidang
merumuskan dasar negara. Buya dengan tegas menyampaikan isi pidato politiknya
yang mewakili kelompok islam : “Bila negara kita ini mengambil dasar negara
berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke neraka….”
Kata-kata ini membuat hadirin
sidang paripurna konstituante terkejut. Terlebih bagi pihak pendukung
pancasila. Hal ini membuat Moh. Yamin membenci Buya Hamka, hingga berlarut.
Kebencian Moh. Yamin yang
pancasilais sejati tak dapat dihilangkan. Hingga ajal menjelang, barulah ia
sadar atas perlakuan yang ia berikan ke Buya Hamka adalah kesalahan. Sesama
manusia tidak boleh saling membenci apalagi sampai tidak berkesudahan. Moh.
Yamin meminta agar disaat sakaratul maut ia dapat ditemani oleh Buya Hamka dan
dimakamkan dikampung halamannya.
Akhirnya Buya Hamka
mejalankan amanah yang diminta oleh Moh. Yamin. Bukti cinta Buya Hamka kepada
sesama manusia. (dikutip dari Kisah-Kisah Abadi Bersama Ayahku Hamka).
Kisah
Buya Hamka dengan Pramudya Ananta Tur. Pramudya Ananta Tur dengan Lembaran Lentera nya
pada Harian Bintang Timur (salah satu Koran komunis), menyerang Buya Hamka
dengan tulisan berbau fitnah dan menyerang pribadi Buya.
Namun Buya Hamka bersikap
tenang akan hujatan-hujatan tersebut. Sekali. Dua kali. Bahkan berkali-kali
Koran komunis itu menyerang. Buya tetap tenang.
Lama sudah kejadian tersebut
berlalu, Pramudya mengirimkan anak perempuan yang sulung ke tempat Buya Hamka
untuk membantu mengislamkan calon menantunya. Biar bagaimanapun bagi Pramudya,
calon menantunya haruslah seiman dengan anaknya. Dia percaya, bahwa Buya Hamka
adalah orang yang tepat sebagai pembimbing menantunya.
Dari sini dapat ditarik
kesimpulan bahwa, secara tidak langsung Pramudya meminta maaf kepada Buya Hamka
atas perlakuannya selama ini. Bagi Pramudya, Buya Hamka memiliki sifat pemaaf
dan mau menerima. Sedangkan bagi buya, ini adalah bukti cintanya kepada sesama
manusia, beliau dengan ikhlas menerima dan membimbing calon menantu lawan
politiknya. Tanpa melihat kejadian dimasa lalu. (dikutip dari Kisah-Kisah Abadi
Bersama Ayahku Hamka).
Cinta
Seksual
Cinta seksual, secara harfiah
cinta yang didasarkan atas dorongan untuk memperoleh keturunan demi
kelangsungan jenis. Melalui dorongan inilah maka terbentuk keluarga.
Buya Hamka menikah pada 5
April 1929 dengan Siti Raham. Kala itu buya berumur 21 tahun, dan siti raham 15
tahun. Sejak saat itu mereka sah menjadi pasangan suami istri.
Buya membiayai pernikahannya
dari honor hasil menulis roman yang berjudul “Si Sabariyah”, dimana buku itu
telah dicetak tiga kali.
Buah dari pernikahannya, Buya
Hamka dikarunia 11 orang anak.
Banyak suka dan duka mewarnai
perjalanan Buya Hamka merajut rumah tangga. Beliau tidak salah memilih Siti
Raham sebagai pasangan hidup. Disaat ujian datang, ia tampil sebagai motivasi
bagi Buya Hamka. Tanpa mengeluh maupun gundah gulana.
Cinta
kebapakan
Ikatan antara anak dengan
bapak itu adalah dorongan Psikis. Dorongan ini Nampak jelas dalam cinta bapak
kepada anak-anaknya, karena mereka adalah sumber kesenangan dan kegembiraan
baginya, sumber kekuatan dan kebanggaan, dan merupakan faktor penting bagi
kelangsungan peran bapak dan kehidupan dan tetap terkenangnya dia setelah
meninggal dunia.
Cinta Buya Hamka terhadap
anak-anaknya membuahkan hasil dimana pada kalimat terakhir paragraph diatas “merupakan faktor penting bagi kelangsungan
peran bapak dan kehidupan dan tetap terkenangnya dia setelah meninggal dunia”.
Atas didikan dan perhatian seorang bapak kepada anaknya, sang anak pun memiliki
sifat yang tidak jauh berbeda dengan bapaknya. Dimana salah satu anak Buya
Hamka, berhasil membuat buku yang menggambarkan perjalan hidup sang ayah. Sang
anak ingin menunjukkan kalau ini adalah ayahku, kenanglah dan ambilah yang baik
bagimu daripadanya.
Penulis sebagai generasi yang
tidak mengenal Buya Hamka secara langsung dapat mengetahui dan memvisualisasi
seperti apa sosok Buya Hamka berkat buku-buku yang tentang diri beliau. Terima
kasih kepada saksi hidup yang telah membukukannya. Buya Hamka pasti bangga.
Cinta
Kepada Allah
Sebagai ulama dan
cendikiawan, rasa cinta Buya Hamka kepada sang Khalik rasa-rasanya tidak perlu
dipertanyakan. Hal ini dapat kita lihat dari seberapa besar keinginan beliau
menjadikan islam sebagai dasar negara. Atau seberapa kerasnya usaha beliau
menyelamatkan akidah umat dari pemahaman komunis yang anti agama, dan dari
ketidaktahuan umat akan perayaan agama lain yang dapat menggoyahkan iman.
Tidak diragukan lagi bahwa
rasa cinta beliau kepada Allah SWT sangatlah tinggi. Karena beliau dengan
sungguh-sungguh ingin menjalankan perintanya dan menjauhi semua larangannya.
Ada satu kisah dimana Cinta
Buya Hamka Kepada Allah SWT melebihi cinta kepada istrinya. Menurut penuturan
sang Anak, Ketika Buya mendapati rindu terhadap kenangan bersama Siti Raham
yang telah lebih dahulu berpulang, Buya akan bersenandung ‘kaba’, namun ketika
kenangan itu muncul begitu kuat Buya
akan segera ambil wudhu dan melaksanakan shalat taubat kemudian mengaji.
Lalu kenapa shalat taubat?
Ternyata Buya Hamka berupaya mengalihkan dan memusatkan pikiran dan kecintaanya
semata-mata karena Allah SWT. Beliau takut kalau kecintaanya kepada sang istri
melebihi kecintaannya kepada Allah SWT.
Itulah salah satu bukti
kecintaan Buya Hamka kepada Allah SWT.
Cinta
Kepada Rasul
Cinta kepada Rasul yang
diutus oleh Allah SWT sebagai rahmat bagi semesta alam, menduduki peringkat
kedua setelah cinta kepada Allah SWT. Ini karena Rasul merupakan ideal sempurna
bagi manusia baik dalam tingkah laku, moral maupun sifat luhur lainnya.
Buya Hamka meski tidak
sesempurna Rasul yang memang sudah di cap Maksum oleh Allah SWT, sedikitnya
memiliki sifat yang sama, baik dalam tingkah laku dan moral meski jauh dari
sempurna.
Buya Hamka meneruskan Dakwah
Rasul dengan memberi pengajian dari satu masjid ke masjid lain. Mengajak kepada
kebaikan dan menjauhkan dari kemungkaran. Memiliki sifat pemaaf. Bukti cinta
kepada rasul yang dipraktikan.
C.
Kasih Sayang
Kasih sayang merupakan kunci
kebahagian. Kasih sayang merupakan dasar komunikasi dalam suatu keluarga.
Kasih sayang Buya Hamka
terhadap keluarga tercemin dari bagaimana ia memenuhi kebutuhan hidup istri dan
anaknya. ketika itu ia harus pergi ke medan untuk bekerja di Majalah Pedoman
Masyarakat meninggalkan keluarganya.
Kasih sayang tidak hanya
dicurahkan oleh Buya Hamka seorang, tetapi sang istri, Siti Raham, mengatur
semua kebutuhan agar anak-anak mereka tidak mengalami kelaparan. Berbagai cara
ia lakukan demi sang anak, mulai dari jual barang rumah tangga hingga
perhiasan. Disinilah, Siti Raham sukses menjalankan amanah sebagai seorang ibu.
Ia rela menjual hartnya. Dan ia bukanlah seorang wanita yang memandang
perhiasan sebagai mahkota. Karena sejatinya mahkota baginya adalah Buya Hamka
dan Keluarga.
D.
Kemesraan
Kemesraan berasal dari kata
dasar mesra, yang artinya perasaan simpati yang akrab. Kemesraan adalah
hubungan yang akrab, baik antara pria-wanita yang sedang dimabuk asmara maupun
yang sudah berumah tangga.
Kemesraan dapat menimbulkan
daya kreativitas manusia. Dengan kemesraan orang dapat menciptakan berbagai bentuk
seni sesuai dengan kemampuan dan bakatnya.
Adapun bagi Buya Hamka
kemesraan ia tuangkan dalam roman-roman atau novel yang cukup terkenal adalah “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” yang
cukup fenomenal bahkan sempat diadaptasi ke layar lebar.
F.
Pemujaan
Pemujaan adalah salah satu
manifestasi cinta manusia kepada Tuhannya yang diwujudkan dalam bentuk
komunikasi ritual.
Pemujaan dalam arti
komunikasi ritual, dilakukan oleh Buya Hamka pada saat ingin memperdalam ilmu
agama dan bahasa Arab, kenginginnya untuk menuntut ilmu di Mekkah tak serta
merta sebatas mencari ilmu, tapi ia ingin menjalankan rukun islam yang ke lima.
Yakni pergi Haji.
Tak bisa dipungkir, Buya
Hamka memang ingin belajar disana. Namun karena bentuk cintanya kepada Allah
SWT, ia memilih waktu kepergian pas bulan Rajab, dimana bulan itu adalah
bulannya bagi orang Indonesia untuk berangkat ke Tanah Suci. Jadi Buya Hamka
memilih untuk memprioritaskan menjalankan kewajibannya kepada Allah SWT
terlebih dahulu ketimbang mencari ilmu. Barulah setelah selesai menunaikan ia
dapat fokus kembali menimba ilmu.
F.
Belas Kasihan
Belas kasihan dapat diartikan
bersimpati kepada nasib atau keadaan yang diderita orang lain.
Tanggal 07 Maret 1981 Buya
Hamka (kala itu menjabat sebagai Ketua Umum MUI) mengeluarkan Fatwa yang isinya
“Mengharamkan umat islam mengikuti
upacara natal, meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa”.
Setelah fatwa itu terbit sebelum waktunya (bocor, -pen), sempat membuat
kehebohan dan terjadi perdebatan yang puncaknya membuat menteri agama saat itu
Letjen H. Alamsyah Ratuperiranegara
sempat menyatakan berhenti sebagai menteri.
Mendengar hal tersebut, Hamka
merasa iba dan beliau menyatakan kalau dia-lah yang bertanggung jawab atas
beredarnya fatwa tsb bukan menteri agama. Meski fatwa tersebut sebenarnya
diolah bersama ahli-ahli agama dari ormas dan lembaga islam tingkat nasional.
Tertanggal 21 Mei 1981, Buya
Hamka meletakkan jabatan sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia ( MUI ).
Belas kasihan Buya Hamka “menyelamatkan” seseorang dari ketiadaan
pekerjaan/jabatan.[]
Mungkin segitu saja tulisan
mengenai Buya Hamka: Manusia dan Cinta
Kasih. Apabila ada kesalahan tulis ataupun kekeliruan dalam merangkai
tulisan mohon dimaklumi, karena penulis masih belajar. Kurang lebihnya penulis
mohon maaf, atas kesediannya membaca artikel ini, penulis ucapkan terima kasih.
==II==
II. Buya Hamka
: Manusia dan Keindahan
Sebelum penulis menulis
lebih jauh mengenai keterikatan Buya Hamka dengan Manusia dan Keindahan ada
baiknya kita mengetahui apa itu Keindahan.
A. Keindahan
Keindahan berasal dari kata
indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek, dan sebagainya.
Keindahan merupakan bagian hidup manusia dan tak dapat dipisahkan dari
kehidupan manusia.
Keindahan adalah identik
dengan kebenaran. Keundahan adalah kebenaran dan kebenaran adalah keindahan.
Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang
selalu bertambah
Cinta
merupakan landasan dalam kehidupan perkawinan, pembentukan keluarga dan
pemeliharaan anak, hubungan yang erat dimasyarakat dan hubungan manusiawi yang
akrab. Cinta berlaku tidak hanya antar manusia namun juga antara manusia dengan
Tuhannya, dengan menyembah-Nya secara ikhlas, mengikuti perintah-Nya dan
berpegang teguh pada syariat-nya itulah cara manusia mencintai Tuhannya.
a. Menurut luasnya
pengertian, keindahan dapat dibedakan menjadi:
- Keindahan dalam arti yang luas; seni, alam, moral dan intelektual
- Keindahan dalam arti estetis murni
- Keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan
Keindahan dalam arti yang luas terdapat
dalam diri Buya Hamka. Beliau dikenal sebagai sosok yang piawai dalam dunia
seni terlebih dalam membuat ‘kaba’ atau senandung. Lalu semenjak kecil, Buya
Hamka amat senang dengan pemandangan alam, apalagi beliau lahir dan besar di
tepian Danau Maninjau yang terkenal elok.
Keindahan moral Buya Hamka tercemin
dari sikapnya yang bersahaja, pemaaf dan sabar menghadapi cercaan terlebih dari
lawan politiknya. Keindahan Intelektual terekam jelas pada karya tulisnya,
dimana salah satu karya tulis beliau berhasil dibuat dan diselesaikan selama
beliau dalam masa tahanan pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
Keindahan dalam arti estetis murni atau keindahan keindahan yang menyangkut pengalaman estetis dari seseorang
dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang dicerapnya. Pengalaman Buya yang
estetis, apakah mungkin pada saat beliau menunaikan Haji untuk pertama kalinya?
Karena, salah satu roman atau novel yang beliau buat bersetting di Mekkah
tepatnya Ka’bah. Bisa saja buya Hamka menulis novel tsb berdasarkan dengan
pengalaman yang didapat. Meski novel atau roman tsb tidak sepenuhnya bercerita
tentang Buya Hamka, tapi Buya dapat memvisualisasikan keadaan di sekitar Ka’bah
dan menuangkannya dalam cerita. (Adapun novel yang dimaksud “Di Bawah Lindungan
Ka’bah”).
Keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan
penglihatan penulis rasa keindahan ini masih berhubungan dengan
keindahan dari estetis murni, dimana Buya Hamka tuangkan dalam Roman atau
Novel.
b. Nilai Estetik
Nilai estetik adalah nilai
yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian
keindahan.
Nilai estetik digolongkan
menjadi menjadi dua macam :
- Nilai ekstrinsik; sifat baik dari suatu benda sebagai alat atau sarana untuk sesuatu hal lainnya, yakni nilai yang bersifat sebagai alat atau membantu.
- Nilai instrinsik; sifat baik dari dari benda yang bersangkutan atau sebagai tujuan, ataupun demi kentingan benda itu sendiri.
Buya Hamka amat suka
bersajak, bersenandung bahkan berpuisi. Darinya tercipta berbagai macam sajak
dan puisi yang mungkin pembaca tulisan ini mengenalnya. Nah itu lah nilai
ekstrinsik yang ada dalam diri Buya Hamka. Adapun puisi dan sajak hasil
ciptaanya bukan lah omong kosong belaka, ada nilai-nilai dan pesan yang dapat
kita petik dari dalamnya. Dimana bisa dibilang itu adalah nilai instrintiknya.
c. Kontemplasi dan Ekstansi
Kontemplasi adalah dasar
dalam diri manusia untuk menciptakan sesuatu yang indah. Sedangkan ekstansi
adalah dasar dalam diri manusia untuk menyatakan, merasakan dan menikmati
sesuatu yang indah.
Nampaknya, baik kontemplasi
dan ekstansi dimiliki oleh seorang Buya Hamka. Ambil salah satu kenangan Buya
Hamka selama di Baitullah, bagimana mungkin beliau bisa menghasilkan novel yang
luar biasa (Di dalam lindungan Ka’bah, -pen) kalau beliau tidak sepenuhnya
merasakan dan menikmati keindahan luar biasa selama berada disana. Dengan apik,
beliau menggambarkan apa saja yang dilakukan tokoh dalam novel berdasarkan yang
beliau lakukan.
d. Apa sebab manusia
menciptakan keindahan?
Mungkin bagi Buya Hamka
menciptakan keindahan meski itu dengan puisi atau sajak merupakan bukti
cintanya baik bagi sesama manusia maupun Tuhannya. Untuk sesama, buya mencoba
membagi pengalamannya dan untuk Tuhan, buya menghaturkan rasa syukurnya.
B. Renungan
Renungan berasal dari kata
renung; artinya diam-diam memikirkan sesuatu atau memikirkan sesuatu dengan
dalam-dalam. Renungan adalah hasil dari merenung. Dalam merenung akan tercipta
seni. Seni ini dapat berupa tulisan, lukisan, nyanyian atau segala sesuatu yang
pada akhirnya dapat diekspresikan.
Sebuah renungan berupa Puisi
yang dikarang oleh Buya Hamka salah satunya berjudul “Tuhan, Aku Cinta Padamu”.
Berikut isi puisi tersebut:
Aku lemas
Tapi Berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal
Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar
Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah
Tuhan, aku cinta padamu
Itulah puisi dan juga renungan yang patut direnungkan
dari Buya Hamka.
C. Keserasian
Keserasian berasal dari
kata serasi dan dari kata dasar rasi, artinya cocok, kena benar, dan sesuai
benar. Kata cocok, kena dan sesuai mengandung unsur perpaduan, pertentangan,
ukuran dan seimbang.
Apabila kita cocokan
pengertian keserasian dengan keindahan yang dihasilkan oleh Buya Hamka, akan
ketemu satu keselarasan dimana rerata puisi yang dihasilkan Buya Hamka tidaklah
jauh dari agama karena beliau memang dikenal sebagai seorang ulama, seperti
pernyataan cinta kepada Tuhannya, lalu menggambarkan bagaimana seharusnya
manusia lebih mementingkan Tuhannya diatas segalanya (seperti puisi yang
berjudul Taubat, -pen).
Sebagai penutup, Buya Hamka
sebagai Manusia dan Keindahan seperti yang telah kita ketahui, terpancar dari
dirinya dan dapat dikenali melalui karya-karya tulisnya. Sekian.
==II==
III. Buya Hamka :
Manusia dan Penderitaan
A. Pengertian Penderitaan
Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sansekerta, dhra, yang artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan dapat berupa lahir atau batin, atau lahir batin.
Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sansekerta, dhra, yang artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan dapat berupa lahir atau batin, atau lahir batin.
Penderitaan akan dialami
oleh semua orang, hal itu sudah merupakan “resiko” hidup. Pun begitu dengan
sosok yang akan kita bahas. Ya, beliau adalah Buya Hamka.
Perjalanan Buya Hamka tidaklah
selalu mulus, ada lika-liku kehidupan yang mesti dilalui. Masa suka maupun
duka. Suka atau tidak suka.
Mengingat penderitaan itu
dapat berupa penderitaan fisik dan penderitaan psikis, maka sedikit mudah
menentukan seperti apa penderitaan yang telah dialami oleh Buya Hamka, tentu
saja dalam hal ini penulis mengambil dari berbagai referensi yang tersebar di
internet.
Penderitaan fisik,
tidak pernah disebut dalam artikel manapun bahwa Buya Hamka mengalami
penderitaan fisik. Meskipun ia sempat merasakan dinginnya penjara selama 2
tahun 4 bulan. Atau jika ada yang bertanya, bagaimana tentang kisah
kepergiannya ke Medan meninggalkan keluarga untuk bekerja dan membiaya
kebutuhan hidup. Well, menurut penulis Itu bukanlah suatu penderitaan fisik
yang beliau tanggung melainkan kewajiban dan beliau ikhlas menjalankannya.
Penderitaan
psikis, penderitaan psikis yang dialami Buya Hamka adalah saat ditinggal pergi
oleh istrinya, Siti Raham. Buya Hamka amat sangat terpukul, karena seseorang
yang telah bersama puluhan tahun mengisi kesehariannya, motivator dikala
dirinya gundah gulana harus berpulang ke haribaan.
Namun
hal itu tak serta merta membuat Buya Hamka sedih berkepanjangan ada cara
bagaimana beliau mengatasinya seperti yang tertuang dalam penggalan kisah yang
diceritakan oleh anak
beliau, Irfan Hamka, ketika berbincang dengan Buya Hamka :
“Ayah, kuat sekali
Ayah membaca Al Quran?“
“Kau tahu Irfan.
Ayah dan Ummi telah berpuluh-puluh tahun lamanya hidup bersama. Tidak mudah
bagi Ayah melupakan kebaikan Ummi. Itulah sebabnya bila datang ingatan Ayah
terhadap Ummi, Ayah mengenangnya dengan bersenandung. Namun, bila ingatan Ayah
kepada Ummi itu muncul begitu kuat, Ayah lalu segera mengambil air wudhu. Ayah
shalat Taubat dua rakaat. Kemudian Ayah mengaji. Ayah berupaya mengalihkannya
dan memusatkan pikiran dan kecintaan Ayah semata-mata kepada Allah,”jawab Ayah.
“Mengapa Ayah
sampai harus melakukan shalat Taubat?“
“Ayah takut,
kecintaan Ayah kepada Ummi melebihi kecintaan Ayah kepada Allah. Itulah mengapa
Ayah shalat Taubat terlebih dahulu,”jawab Ayah lagi. (Dikutip dari : Ayah; ms.212-213)
Ya, semua penderitaan tsb sirna jika kita ingat dan
berserah diri kepada Allah SWT. Karena tidak ada satu Dzat pun yang dapat
membantu dan menolong kita dari penderitaan dan kekhilafan.
B.
Siksaan
Siksaan dapat diartikan sebagai siksaan badan atau jasmani, dan dapat juga berupa siksaan jiwa atau rohani.
Siksaan dapat diartikan sebagai siksaan badan atau jasmani, dan dapat juga berupa siksaan jiwa atau rohani.
Buya Hamka sama
seperti penderitaan fisik diatas, tidak mengalami siksaan badan. Namun siksaan
jiwa pernah ia alami. Kehilangan sang istri merupakan salah satu siksaan jiwa,
karena sudah bertahun-tahun bersama kemudian beliau sendiri. Kesendirian ini
lah pada akhirnya perlahan menyiksa jiwa, namun karena Buya adalah seorang yang
mencintai Tuhan diatas segalanya hal itu tidak berlaku, siksaan kini menjadi
ujian, ujian yang pada akhirnya menuntun untuk menjadi pribadi ‘pilihan’.
Selain kepergian sang
istri, siksaan jiwa yang dialami Buya Hamka adalah ketika dirinya dipenjara
oleh Soekarno karena difitnah secara keji oleh Pro komunis dengan isu ingin menggulingkan
Soekarno. Namun lagi-lagi, siksaan tersebut tiada berarti, walau raga terpasung
tapi potensi diri terus berlangsung. Selama di tahanan, beliau mempergunakan
waktunya untuk semakin dekat dengan Sang Khalik dan menngunakan kemampuannya
untuk membuat tulisan yang akhirnya terangkum menjadi sebuah buku yang dikenal
dengan Tafsir Al-Azhar
C.
Kekalutan Mental
Penderitaan batin dalam ilmu psikologi dikenal sebagai kekalutan mental. Secara lebih sederhana, kekalutan mental dapat dirumuskan sebagai gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah secara kurang wajar.
Penderitaan batin dalam ilmu psikologi dikenal sebagai kekalutan mental. Secara lebih sederhana, kekalutan mental dapat dirumuskan sebagai gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah secara kurang wajar.
Sebagai orang uang
beragama; paham dan mengamalkan ajarannya. Buya Hamka jauh daripada sifat
kekalutan mental. Kemiskinan yang menerpa, kehilangan kekasih hati,
ketidakadilan yang diterima, itu semua tidak membuat Buya Hamka menjadi pribadi
yang mudah ‘jatuh’ (mental breakdown). Ia serahkan segalanya pada Allah SWT
sembari terus berusaha dan berdoa.
D.
Penderitaan dan perjuangan
Terkadang apa yang kita perjuangkan tidak melulu sejalan dengan orang lain. Ada saja yang bersebrangan. Seperti halnya perjuangan yang dilakukan Buya Hamka untuk menjalankan Syariat Islam sebagai dasar negara. Kepatuhannya kepada Allah SWT membuat Buya Hamka untuk menerapkan Syarita Islam dalam kehidupan bernegara hal itu ia sampaikan pada Sidang Dewan Konstituante. Namun saat itu pihak-pihak yang kontra dengan beliau sangat tidak menginginkannya dan lebih memilih Pancasila sebgai negara, inilah yang dianggap oleh Buya Hamka sesuatu kesalahan, karena sistem tersebut produk buatan manusia dimana manusia bisa melakukan kesalahan.
Terkadang apa yang kita perjuangkan tidak melulu sejalan dengan orang lain. Ada saja yang bersebrangan. Seperti halnya perjuangan yang dilakukan Buya Hamka untuk menjalankan Syariat Islam sebagai dasar negara. Kepatuhannya kepada Allah SWT membuat Buya Hamka untuk menerapkan Syarita Islam dalam kehidupan bernegara hal itu ia sampaikan pada Sidang Dewan Konstituante. Namun saat itu pihak-pihak yang kontra dengan beliau sangat tidak menginginkannya dan lebih memilih Pancasila sebgai negara, inilah yang dianggap oleh Buya Hamka sesuatu kesalahan, karena sistem tersebut produk buatan manusia dimana manusia bisa melakukan kesalahan.
Pada akhirnya
Pancasila-lah yang lahir sebagai dasar negara,
bersamaan dengan itu Dewan Konstituante, wadah dimana pencetusan ide
dasar negara berasal dibubarkan. Dan partai Masyumi, kendaraan politik Buya
Hamka hingga bisa mewakili rakyat di Dewan Konstituante pun ikut dibubarkan.
Penderitaan yang dialami dari sebuah perjuangan seorang Buya Hamka.
E.
Penderitaan, Media Massa dan Seniman
Media massa selain sebagai penyampai informasi bisa menjadi alat untuk menjatuhkan seseorang ditangan orang-orang yang kurang bertanggung jawab.
Media massa selain sebagai penyampai informasi bisa menjadi alat untuk menjatuhkan seseorang ditangan orang-orang yang kurang bertanggung jawab.
Kala itu Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) dan
surat kabar yang dikelola oleh para aktivis PKI seperti Bintang Timur terus
memfitnah Buya Hamka sebagai plagiat. Novel “Tenggelamnya Kapal Van der Wick”
yang ditulisnya dituduh menjiplak karya sastra di Perancis. Lekra membuat isu
“skandal sastra terbesar” terkait novel itu. Semua tuduhan itu, tentu saja
semata-mata karena kebencian mereka terhadap Hamka sebagai ulama yang
berlatarbelakang aktivis Partai Masjumi. Sayangnya, dengan sifat nya
yang santun Buya Hamka tidak pernah terprovokasi atas isu tersebut.
Belajar dari Buya
Hamka mengenai penderitaan, tak perlu lari darinya tapi cari cara untuk
mengatasinya. Dengan berbuat baik dan selalu mendekatkan diri kepada Tuhan YME.
Sekian tulisan ini
penulis akhiri, apabila ada kesalahan tulis mohon agar dimaafkan.
Sumber
: