Selasa, 31 Mei 2016

Tugas 02. Buya Hamka : Cinta Kasih, Keindahan dan Penderitaan


I. Buya Hamka : Manusia dan Cinta Kasih
Sebelum penulis menulis lebih jauh mengenai keterikatan Buya Hamka dengan Manusia dan Cinta Kasih ada baiknya kita mengetahui apa itu cinta kasih. 

A. Pengertian Cinta Kasih
Secara garis besar, cinta kasih mengandung arti yang hampir bersamaan. Namun terdapat pula perbedaan antara keduanya. Cinta lebih mengandung pengertian mendalamnya rasa, sedangkan kasih sesuatu yang bersumber dari cinta yang mendalam.

Cinta merupakan landasan dalam kehidupan perkawinan, pembentukan keluarga dan pemeliharaan anak, hubungan yang erat dimasyarakat dan hubungan manusiawi yang akrab. Cinta berlaku tidak hanya antar manusia namun juga antara manusia dengan Tuhannya, dengan menyembah-Nya secara ikhlas, mengikuti perintah-Nya dan berpegang teguh pada syariat-nya itulah cara manusia mencintai Tuhannya.

Lalu apa yang bisa diambil atau disadur dari pengertian tersebut dan bagaimana kita mengaitkannya dengan Buya Hamka?

Tentu saja sebagai manusia, Buya Hamka pernah merasakan indahnya jalinan cinta kasih baik itu kepada anak-istrinya, keluarga kerabatnya, dan terlebih kepada Tuhannya. Karena  Poin terakhir ini lah penulis tertarik dengan sosok Buya Hamka, berharap suatu hari nanti bisa meniru keteladannya.
Well, agar tidak keluar dari jalur materi yang telah ditetapkan, penulis akan menuliskan Buya Hamka point per point seperti yang tertulis di materi.

B. Cinta Menurut Ajaran Agama
Dalam kehidupan manusia, cinta menampakkan diri dalam berbagai bentuk. Kadang-kadang seseorang mencitai dirinya sendiri, kadang-kadang mencintai orang lain, hartanya, hingga Tuhannya. Pun begitu dengan Buya Hamka sudah kodratnya sebagai manusia memiliki beliau cinta.

Cinta Diri
Cinta diri erat kaitannya dengan dorongan menjaga diri. Manusia senang untuk tetap hidup, mengembangkan potensi dirinya dan mengaktualisasikan diri.
Jika kita melihat sosok Buya Hamka mencintai diri dengan pernyataan yang tertulis diatas, rasanya tidak salah kalau Buya Hamka cinta akan dirinya, akan tetapi hal itu tentu saja menjurus kearah yang positif seperti cinta akan dirinya digunakan untuk mengembangkan potensi diri.

Buya Hamka merupakan seorang pembelajar otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Buya Hamka mengenyam bangku sekolah dasar pada tahun 1915 saat itu usianya 7 tahun. Namun, Buya Hamka di sekolah dasar hanya sampai tingkat dua. Pada usia 10 tahun, Buya Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa arab di Sumatera Thawalib (semacam pondok pesantren) yang didirikan oleh Ayahnya, Haji Rasul. Selain itu, Buya Hamka juga mengikuti pengajaran agama disurau dan masjid yang diberikan oleh ulama-ulama terkenal.

Merasa ilmu yang dimilikinya masihlah sedikit, Buya Hamka pergi merantau ke Pulau Jawa pada tahun 1924 untuk menimba ilmu. Saat itu usianya menginjak 16 tahun. Ia tiba di Yogyakarta, diperkenalkan dengan Sarekat Islam (SI), menjadi salah satu anggota dan belajar mengenai gerakan islam modern langsung dibawah bimbingan HOS Tjokroaminoto. 

Tidak sampai disitu, rasa penasaran Buya Hamka akan luasnya pengetahuan, terutama pengetahuan tentang agama,  membuat Buya Hamka semakin ingin menggali potensi dirinya lebih dalam. Dan akhirnya ia memutuskan untuk menimba ilmu di Mekkah pada tahun 1927. Sambil menyelam minum air, Buya Hamka mendapatkan apa yang ia inginkan, ia berhasil menunaikan ibadah haji dan berkesempatan memperdalam ilmu agama di Tanah Suci dibawah bimbingan ulama-ulama terkemuka.

Berbagai pengetahuan yang ia pelajari adalah bukti cinta kepada dirinya, dimana dengan ilmu tiadalah akan bersusah di lain waktu. Buktinya dengan ilmu yang dimiliki, ia dapat berbagi dengan orang lain, selain itu Buya Hamka dapat melahirkan  karya-karya tulis yang masih dapat dinikmati hingga saat ini.

Cinta kepada sesama manusia
Cinta kepada sesama manusia dilakukan agar manusia dapat hidup dengan penuh keserasian dan keharmonisan dengan manusia lainnya. Tidak boleh tidak ia harus membatasi cintanya pada diri sendiri dan egoism.

Cinta kepada sesama manusia dilakukan oleh Buya Hamka salah satunya kepada lawan politiknya sebut saja diantaranya adalah Presiden Soekarno , Moh. Yamin dan Pramudya Ananta Tur.

Buya Hamka bukanlah tipikal pendendam, beliau pemaaf bahkan sebelum orang tsb meminta maaf sudah beliau maafkan.

Kisah Buya Hamka dengan Presiden Soekarno. Buya Hamka pernah ditahan selama Dua tahun 4 Bulan (1964 – 1966) atas tuduhan perencanaan pembunuhan presiden. Buya tidak menaruh dendam bahkan ia rela mendekam. Berat memang, tapi untuk melawan rezim tangan besi saat itu apa yang beliau bisa perbuat, semuanya diserahkan ke pada Allah SWT. Buya bebas setelah rezim Soekarno jatuh dan digantikan oleh Soeharto. Kehidupan Buya kembali sedia kala.

Pada tanggal 16 juni 1970, buya mendapat kabar kalau Mantan Presiden Soekarno telah berpulang ke Rahmatullah dimana ia juga mendapat amanat dari Soekarno melalui keluarga agar “bila kelak ia mati, minta kesediannya menjadi imam shalat jenazahnya”.

Tanpa ragu, Buya dengan ikhlas menerima amanat dari Soekarno dan melaksanakannya. Bukti cinta Buya Hamka kepada sesame manusia. (dikutip dari Kisah-Kisah Abadi Bersama Ayahku Hamka).

Kisah Buya Hamka dengan Moh. Yamin. Berasal dari daerah yang sama, namun keduanya memilik perbedaan ideologi. Buya Hamka yang berlandaskan islam sedangkan Moh. Yamin dengan Pancasilanya.

Kejadian bermula saat sidang merumuskan dasar negara. Buya dengan tegas menyampaikan isi pidato politiknya yang mewakili kelompok islam : “Bila negara kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke neraka….”

Kata-kata ini membuat hadirin sidang paripurna konstituante terkejut. Terlebih bagi pihak pendukung pancasila. Hal ini membuat Moh. Yamin membenci Buya Hamka, hingga berlarut.

Kebencian Moh. Yamin yang pancasilais sejati tak dapat dihilangkan. Hingga ajal menjelang, barulah ia sadar atas perlakuan yang ia berikan ke Buya Hamka adalah kesalahan. Sesama manusia tidak boleh saling membenci apalagi sampai tidak berkesudahan. Moh. Yamin meminta agar disaat sakaratul maut ia dapat ditemani oleh Buya Hamka dan dimakamkan dikampung halamannya. 

Akhirnya Buya Hamka mejalankan amanah yang diminta oleh Moh. Yamin. Bukti cinta Buya Hamka kepada sesama manusia. (dikutip dari Kisah-Kisah Abadi Bersama Ayahku Hamka).

Kisah Buya Hamka dengan Pramudya Ananta Tur. Pramudya Ananta Tur dengan Lembaran Lentera nya pada Harian Bintang Timur (salah satu Koran komunis), menyerang Buya Hamka dengan tulisan berbau fitnah dan menyerang pribadi Buya.

Namun Buya Hamka bersikap tenang akan hujatan-hujatan tersebut. Sekali. Dua kali. Bahkan berkali-kali Koran komunis itu menyerang. Buya tetap tenang.

Lama sudah kejadian tersebut berlalu, Pramudya mengirimkan anak perempuan yang sulung ke tempat Buya Hamka untuk membantu mengislamkan calon menantunya. Biar bagaimanapun bagi Pramudya, calon menantunya haruslah seiman dengan anaknya. Dia percaya, bahwa Buya Hamka adalah orang yang tepat sebagai pembimbing menantunya. 

Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa, secara tidak langsung Pramudya meminta maaf kepada Buya Hamka atas perlakuannya selama ini. Bagi Pramudya, Buya Hamka memiliki sifat pemaaf dan mau menerima. Sedangkan bagi buya, ini adalah bukti cintanya kepada sesama manusia, beliau dengan ikhlas menerima dan membimbing calon menantu lawan politiknya. Tanpa melihat kejadian dimasa lalu. (dikutip dari Kisah-Kisah Abadi Bersama Ayahku Hamka).

Cinta Seksual
Cinta seksual, secara harfiah cinta yang didasarkan atas dorongan untuk memperoleh keturunan demi kelangsungan jenis. Melalui dorongan inilah maka terbentuk keluarga.

Buya Hamka menikah pada 5 April 1929 dengan Siti Raham. Kala itu buya berumur 21 tahun, dan siti raham 15 tahun. Sejak saat itu mereka sah menjadi pasangan suami istri.

Buya membiayai pernikahannya dari honor hasil menulis roman yang berjudul “Si Sabariyah”, dimana buku itu telah dicetak tiga kali.

Buah dari pernikahannya, Buya Hamka dikarunia 11 orang anak.

Banyak suka dan duka mewarnai perjalanan Buya Hamka merajut rumah tangga. Beliau tidak salah memilih Siti Raham sebagai pasangan hidup. Disaat ujian datang, ia tampil sebagai motivasi bagi Buya Hamka. Tanpa mengeluh maupun gundah gulana.

Cinta kebapakan
Ikatan antara anak dengan bapak itu adalah dorongan Psikis. Dorongan ini Nampak jelas dalam cinta bapak kepada anak-anaknya, karena mereka adalah sumber kesenangan dan kegembiraan baginya, sumber kekuatan dan kebanggaan, dan merupakan faktor penting bagi kelangsungan peran bapak dan kehidupan dan tetap terkenangnya dia setelah meninggal dunia.

Cinta Buya Hamka terhadap anak-anaknya membuahkan hasil dimana pada kalimat terakhir paragraph diatas “merupakan faktor penting bagi kelangsungan peran bapak dan kehidupan dan tetap terkenangnya dia setelah meninggal dunia”. Atas didikan dan perhatian seorang bapak kepada anaknya, sang anak pun memiliki sifat yang tidak jauh berbeda dengan bapaknya. Dimana salah satu anak Buya Hamka, berhasil membuat buku yang menggambarkan perjalan hidup sang ayah. Sang anak ingin menunjukkan kalau ini adalah ayahku, kenanglah dan ambilah yang baik bagimu daripadanya. 

Penulis sebagai generasi yang tidak mengenal Buya Hamka secara langsung dapat mengetahui dan memvisualisasi seperti apa sosok Buya Hamka berkat buku-buku yang tentang diri beliau. Terima kasih kepada saksi hidup yang telah membukukannya. Buya Hamka pasti bangga.

Cinta Kepada Allah
Sebagai ulama dan cendikiawan, rasa cinta Buya Hamka kepada sang Khalik rasa-rasanya tidak perlu dipertanyakan. Hal ini dapat kita lihat dari seberapa besar keinginan beliau menjadikan islam sebagai dasar negara. Atau seberapa kerasnya usaha beliau menyelamatkan akidah umat dari pemahaman komunis yang anti agama, dan dari ketidaktahuan umat akan perayaan agama lain yang dapat menggoyahkan iman.

Tidak diragukan lagi bahwa rasa cinta beliau kepada Allah SWT sangatlah tinggi. Karena beliau dengan sungguh-sungguh ingin menjalankan perintanya dan menjauhi semua larangannya.

Ada satu kisah dimana Cinta Buya Hamka Kepada Allah SWT melebihi cinta kepada istrinya. Menurut penuturan sang Anak, Ketika Buya mendapati rindu terhadap kenangan bersama Siti Raham yang telah lebih dahulu berpulang, Buya akan bersenandung ‘kaba’, namun ketika kenangan itu muncul begitu kuat  Buya akan segera ambil wudhu dan melaksanakan shalat taubat kemudian mengaji.

Lalu kenapa shalat taubat? Ternyata Buya Hamka berupaya mengalihkan dan memusatkan pikiran dan kecintaanya semata-mata karena Allah SWT. Beliau takut kalau kecintaanya kepada sang istri melebihi kecintaannya kepada Allah SWT.
Itulah salah satu bukti kecintaan Buya Hamka kepada Allah SWT.

Cinta Kepada Rasul
Cinta kepada Rasul yang diutus oleh Allah SWT sebagai rahmat bagi semesta alam, menduduki peringkat kedua setelah cinta kepada Allah SWT. Ini karena Rasul merupakan ideal sempurna bagi manusia baik dalam tingkah laku, moral maupun sifat luhur lainnya.

Buya Hamka meski tidak sesempurna Rasul yang memang sudah di cap Maksum oleh Allah SWT, sedikitnya memiliki sifat yang sama, baik dalam tingkah laku dan moral meski jauh dari sempurna.

Buya Hamka meneruskan Dakwah Rasul dengan memberi pengajian dari satu masjid ke masjid lain. Mengajak kepada kebaikan dan menjauhkan dari kemungkaran. Memiliki sifat pemaaf. Bukti cinta kepada rasul yang dipraktikan.

C. Kasih Sayang
Kasih sayang merupakan kunci kebahagian. Kasih sayang merupakan dasar komunikasi dalam suatu keluarga.

Kasih sayang Buya Hamka terhadap keluarga tercemin dari bagaimana ia memenuhi kebutuhan hidup istri dan anaknya. ketika itu ia harus pergi ke medan untuk bekerja di Majalah Pedoman Masyarakat meninggalkan keluarganya. 

Kasih sayang tidak hanya dicurahkan oleh Buya Hamka seorang, tetapi sang istri, Siti Raham, mengatur semua kebutuhan agar anak-anak mereka tidak mengalami kelaparan. Berbagai cara ia lakukan demi sang anak, mulai dari jual barang rumah tangga hingga perhiasan. Disinilah, Siti Raham sukses menjalankan amanah sebagai seorang ibu. Ia rela menjual hartnya. Dan ia bukanlah seorang wanita yang memandang perhiasan sebagai mahkota. Karena sejatinya mahkota baginya adalah Buya Hamka dan Keluarga.

D. Kemesraan
Kemesraan berasal dari kata dasar mesra, yang artinya perasaan simpati yang akrab. Kemesraan adalah hubungan yang akrab, baik antara pria-wanita yang sedang dimabuk asmara maupun yang sudah berumah tangga.

Kemesraan dapat menimbulkan daya kreativitas manusia. Dengan kemesraan orang dapat menciptakan berbagai bentuk seni sesuai dengan kemampuan dan bakatnya.

Adapun bagi Buya Hamka kemesraan ia tuangkan dalam roman-roman atau novel yang cukup terkenal adalah “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” yang cukup fenomenal bahkan sempat diadaptasi ke layar lebar.

F. Pemujaan
Pemujaan adalah salah satu manifestasi cinta manusia kepada Tuhannya yang diwujudkan dalam bentuk komunikasi ritual.

Pemujaan dalam arti komunikasi ritual, dilakukan oleh Buya Hamka pada saat ingin memperdalam ilmu agama dan bahasa Arab, kenginginnya untuk menuntut ilmu di Mekkah tak serta merta sebatas mencari ilmu, tapi ia ingin menjalankan rukun islam yang ke lima. Yakni pergi Haji. 

Tak bisa dipungkir, Buya Hamka memang ingin belajar disana. Namun karena bentuk cintanya kepada Allah SWT, ia memilih waktu kepergian pas bulan Rajab, dimana bulan itu adalah bulannya bagi orang Indonesia untuk berangkat ke Tanah Suci. Jadi Buya Hamka memilih untuk memprioritaskan menjalankan kewajibannya kepada Allah SWT terlebih dahulu ketimbang mencari ilmu. Barulah setelah selesai menunaikan ia dapat fokus kembali menimba ilmu.

F. Belas Kasihan
Belas kasihan dapat diartikan bersimpati kepada nasib atau keadaan yang diderita orang lain.

Tanggal 07 Maret 1981 Buya Hamka (kala itu menjabat sebagai Ketua Umum MUI) mengeluarkan Fatwa yang isinya “Mengharamkan umat islam mengikuti upacara natal, meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa”. Setelah fatwa itu terbit sebelum waktunya (bocor, -pen), sempat membuat kehebohan dan terjadi perdebatan yang puncaknya membuat menteri agama saat itu Letjen H. Alamsyah Ratuperiranegara  sempat menyatakan berhenti sebagai menteri.

Mendengar hal tersebut, Hamka merasa iba dan beliau menyatakan kalau dia-lah yang bertanggung jawab atas beredarnya fatwa tsb bukan menteri agama. Meski fatwa tersebut sebenarnya diolah bersama ahli-ahli agama dari ormas dan lembaga islam tingkat nasional.

Tertanggal 21 Mei 1981, Buya Hamka meletakkan jabatan sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia ( MUI ).

Belas kasihan Buya Hamka “menyelamatkan” seseorang dari ketiadaan pekerjaan/jabatan.[]

Mungkin segitu saja tulisan mengenai Buya Hamka: Manusia dan Cinta Kasih. Apabila ada kesalahan tulis ataupun kekeliruan dalam merangkai tulisan mohon dimaklumi, karena penulis masih belajar. Kurang lebihnya penulis mohon maaf, atas kesediannya membaca artikel ini, penulis ucapkan terima kasih.

==II==


II. Buya Hamka : Manusia dan Keindahan
Sebelum penulis menulis lebih jauh mengenai keterikatan Buya Hamka dengan Manusia dan Keindahan ada baiknya kita mengetahui apa itu Keindahan. 

A. Keindahan
Keindahan berasal dari kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek, dan sebagainya. Keindahan merupakan bagian hidup manusia dan tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.

Keindahan adalah identik dengan kebenaran. Keundahan adalah kebenaran dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah

Cinta merupakan landasan dalam kehidupan perkawinan, pembentukan keluarga dan pemeliharaan anak, hubungan yang erat dimasyarakat dan hubungan manusiawi yang akrab. Cinta berlaku tidak hanya antar manusia namun juga antara manusia dengan Tuhannya, dengan menyembah-Nya secara ikhlas, mengikuti perintah-Nya dan berpegang teguh pada syariat-nya itulah cara manusia mencintai Tuhannya.

a. Menurut luasnya pengertian, keindahan dapat dibedakan menjadi:
  • Keindahan dalam arti yang luas; seni, alam, moral dan intelektual
  • Keindahan dalam arti estetis murni
  • Keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan

Keindahan dalam arti yang luas terdapat dalam diri Buya Hamka. Beliau dikenal sebagai sosok yang piawai dalam dunia seni terlebih dalam membuat ‘kaba’ atau senandung. Lalu semenjak kecil, Buya Hamka amat senang dengan pemandangan alam, apalagi beliau lahir dan besar di tepian Danau Maninjau yang terkenal elok. 

Keindahan moral Buya Hamka tercemin dari sikapnya yang bersahaja, pemaaf dan sabar menghadapi cercaan terlebih dari lawan politiknya. Keindahan Intelektual terekam jelas pada karya tulisnya, dimana salah satu karya tulis beliau berhasil dibuat dan diselesaikan selama beliau dalam masa tahanan pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Keindahan dalam arti estetis murni atau keindahan keindahan yang menyangkut pengalaman estetis dari seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang dicerapnya. Pengalaman Buya yang estetis, apakah mungkin pada saat beliau menunaikan Haji untuk pertama kalinya? Karena, salah satu roman atau novel yang beliau buat bersetting di Mekkah tepatnya Ka’bah. Bisa saja buya Hamka menulis novel tsb berdasarkan dengan pengalaman yang didapat. Meski novel atau roman tsb tidak sepenuhnya bercerita tentang Buya Hamka, tapi Buya dapat memvisualisasikan keadaan di sekitar Ka’bah dan menuangkannya dalam cerita. (Adapun novel yang dimaksud “Di Bawah Lindungan Ka’bah”).

Keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan penulis rasa keindahan ini masih berhubungan dengan keindahan dari estetis murni, dimana Buya Hamka tuangkan dalam Roman atau Novel.

b. Nilai Estetik
Nilai estetik adalah nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan.

Nilai estetik digolongkan menjadi menjadi dua macam :
  • Nilai ekstrinsik; sifat baik dari suatu benda sebagai alat atau sarana untuk sesuatu hal lainnya, yakni nilai yang bersifat sebagai alat atau membantu.
  • Nilai instrinsik; sifat baik dari dari benda yang bersangkutan atau sebagai tujuan, ataupun demi kentingan benda itu sendiri.
Buya Hamka amat suka bersajak, bersenandung bahkan berpuisi. Darinya tercipta berbagai macam sajak dan puisi yang mungkin pembaca tulisan ini mengenalnya. Nah itu lah nilai ekstrinsik yang ada dalam diri Buya Hamka. Adapun puisi dan sajak hasil ciptaanya bukan lah omong kosong belaka, ada nilai-nilai dan pesan yang dapat kita petik dari dalamnya. Dimana bisa dibilang itu adalah nilai instrintiknya.

c. Kontemplasi dan Ekstansi
Kontemplasi adalah dasar dalam diri manusia untuk menciptakan sesuatu yang indah. Sedangkan ekstansi adalah dasar dalam diri manusia untuk menyatakan, merasakan dan menikmati sesuatu yang indah.

Nampaknya, baik kontemplasi dan ekstansi dimiliki oleh seorang Buya Hamka. Ambil salah satu kenangan Buya Hamka selama di Baitullah, bagimana mungkin beliau bisa menghasilkan novel yang luar biasa (Di dalam lindungan Ka’bah, -pen) kalau beliau tidak sepenuhnya merasakan dan menikmati keindahan luar biasa selama berada disana. Dengan apik, beliau menggambarkan apa saja yang dilakukan tokoh dalam novel berdasarkan yang beliau lakukan.

d. Apa sebab manusia menciptakan keindahan?
Mungkin bagi Buya Hamka menciptakan keindahan meski itu dengan puisi atau sajak merupakan bukti cintanya baik bagi sesama manusia maupun Tuhannya. Untuk sesama, buya mencoba membagi pengalamannya dan untuk Tuhan, buya menghaturkan rasa syukurnya.

B. Renungan
Renungan berasal dari kata renung; artinya diam-diam memikirkan sesuatu atau memikirkan sesuatu dengan dalam-dalam. Renungan adalah hasil dari merenung. Dalam merenung akan tercipta seni. Seni ini dapat berupa tulisan, lukisan, nyanyian atau segala sesuatu yang pada akhirnya dapat diekspresikan.

Sebuah renungan berupa Puisi yang dikarang oleh Buya Hamka salah satunya berjudul “Tuhan, Aku Cinta Padamu”. Berikut isi puisi tersebut:
Aku lemas
Tapi Berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu

Itulah puisi dan juga renungan yang patut direnungkan dari Buya Hamka.

C. Keserasian
Keserasian berasal dari kata serasi dan dari kata dasar rasi, artinya cocok, kena benar, dan sesuai benar. Kata cocok, kena dan sesuai mengandung unsur perpaduan, pertentangan, ukuran dan seimbang.

Apabila kita cocokan pengertian keserasian dengan keindahan yang dihasilkan oleh Buya Hamka, akan ketemu satu keselarasan dimana rerata puisi yang dihasilkan Buya Hamka tidaklah jauh dari agama karena beliau memang dikenal sebagai seorang ulama, seperti pernyataan cinta kepada Tuhannya, lalu menggambarkan bagaimana seharusnya manusia lebih mementingkan Tuhannya diatas segalanya (seperti puisi yang berjudul Taubat, -pen).

Sebagai penutup, Buya Hamka sebagai Manusia dan Keindahan seperti yang telah kita ketahui, terpancar dari dirinya dan dapat dikenali melalui karya-karya tulisnya. Sekian.

==II==

III. Buya Hamka : Manusia dan Penderitaan


A. Pengertian Penderitaan 
Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sansekerta, dhra, yang artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan dapat berupa lahir atau batin, atau lahir batin.

Penderitaan akan dialami oleh semua orang, hal itu sudah merupakan “resiko” hidup. Pun begitu dengan sosok yang akan kita bahas. Ya, beliau adalah Buya Hamka.

Perjalanan Buya Hamka tidaklah selalu mulus, ada lika-liku kehidupan yang mesti dilalui. Masa suka maupun duka. Suka atau tidak suka.

Mengingat penderitaan itu dapat berupa penderitaan fisik dan penderitaan psikis, maka sedikit mudah menentukan seperti apa penderitaan yang telah dialami oleh Buya Hamka, tentu saja dalam hal ini penulis mengambil dari berbagai referensi yang tersebar di internet.

Penderitaan fisik, tidak pernah disebut dalam artikel manapun bahwa Buya Hamka mengalami penderitaan fisik. Meskipun ia sempat merasakan dinginnya penjara selama 2 tahun 4 bulan. Atau jika ada yang bertanya, bagaimana tentang kisah kepergiannya ke Medan meninggalkan keluarga untuk bekerja dan membiaya kebutuhan hidup. Well, menurut penulis Itu bukanlah suatu penderitaan fisik yang beliau tanggung melainkan kewajiban dan beliau ikhlas menjalankannya.
Penderitaan psikis, penderitaan psikis yang dialami Buya Hamka adalah saat ditinggal pergi oleh istrinya, Siti Raham. Buya Hamka amat sangat terpukul, karena seseorang yang telah bersama puluhan tahun mengisi kesehariannya, motivator dikala dirinya gundah gulana harus berpulang ke haribaan.
Namun hal itu tak serta merta membuat Buya Hamka sedih berkepanjangan ada cara bagaimana beliau mengatasinya seperti yang tertuang dalam penggalan kisah yang diceritakan oleh anak beliau, Irfan Hamka, ketika berbincang dengan Buya Hamka :
 “Ayah, kuat sekali Ayah membaca Al Quran?“  
“Kau tahu Irfan. Ayah dan Ummi telah berpuluh-puluh tahun lamanya hidup bersama. Tidak mudah bagi Ayah melupakan kebaikan Ummi. Itulah sebabnya bila datang ingatan Ayah terhadap Ummi, Ayah mengenangnya dengan bersenandung. Namun, bila ingatan Ayah kepada Ummi itu muncul begitu kuat, Ayah lalu segera mengambil air wudhu. Ayah shalat Taubat dua rakaat. Kemudian Ayah mengaji. Ayah berupaya mengalihkannya dan memusatkan pikiran dan kecintaan Ayah semata-mata kepada Allah,”jawab Ayah. 

“Mengapa Ayah sampai harus melakukan shalat Taubat?“ 

“Ayah takut, kecintaan Ayah kepada Ummi melebihi kecintaan Ayah kepada Allah. Itulah mengapa Ayah shalat Taubat terlebih dahulu,”jawab Ayah lagi. (Dikutip dari : Ayah; ms.212-213)

Ya, semua penderitaan tsb sirna jika kita ingat dan berserah diri kepada Allah SWT. Karena tidak ada satu Dzat pun yang dapat membantu dan menolong kita dari penderitaan dan kekhilafan.
B. Siksaan 
Siksaan dapat diartikan sebagai siksaan badan atau jasmani, dan dapat juga berupa siksaan jiwa atau rohani.
Buya Hamka sama seperti penderitaan fisik diatas, tidak mengalami siksaan badan. Namun siksaan jiwa pernah ia alami. Kehilangan sang istri merupakan salah satu siksaan jiwa, karena sudah bertahun-tahun bersama kemudian beliau sendiri. Kesendirian ini lah pada akhirnya perlahan menyiksa jiwa, namun karena Buya adalah seorang yang mencintai Tuhan diatas segalanya hal itu tidak berlaku, siksaan kini menjadi ujian, ujian yang pada akhirnya menuntun untuk menjadi pribadi ‘pilihan’.
Selain kepergian sang istri, siksaan jiwa yang dialami Buya Hamka adalah ketika dirinya dipenjara oleh Soekarno karena difitnah secara keji oleh Pro komunis dengan isu ingin menggulingkan Soekarno. Namun lagi-lagi, siksaan tersebut tiada berarti, walau raga terpasung tapi potensi diri terus berlangsung. Selama di tahanan, beliau mempergunakan waktunya untuk semakin dekat dengan Sang Khalik dan menngunakan kemampuannya untuk membuat tulisan yang akhirnya terangkum menjadi sebuah buku yang dikenal dengan Tafsir Al-Azhar
C. Kekalutan Mental 
Penderitaan batin dalam ilmu psikologi dikenal sebagai kekalutan mental. Secara lebih sederhana, kekalutan mental dapat dirumuskan sebagai gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah secara kurang wajar.
Sebagai orang uang beragama; paham dan mengamalkan ajarannya. Buya Hamka jauh daripada sifat kekalutan mental. Kemiskinan yang menerpa, kehilangan kekasih hati, ketidakadilan yang diterima, itu semua tidak membuat Buya Hamka menjadi pribadi yang mudah ‘jatuh’ (mental breakdown). Ia serahkan segalanya pada Allah SWT sembari terus berusaha dan berdoa.
D. Penderitaan dan perjuangan 
Terkadang apa yang kita perjuangkan tidak melulu sejalan dengan orang lain. Ada saja yang bersebrangan. Seperti halnya perjuangan yang dilakukan Buya Hamka untuk menjalankan Syariat Islam sebagai dasar negara. Kepatuhannya kepada Allah SWT membuat Buya Hamka untuk menerapkan Syarita Islam dalam kehidupan bernegara hal itu ia sampaikan pada Sidang Dewan Konstituante. Namun saat itu pihak-pihak yang kontra dengan beliau sangat tidak menginginkannya dan lebih memilih Pancasila sebgai negara, inilah yang dianggap oleh Buya Hamka sesuatu kesalahan, karena sistem tersebut produk buatan manusia dimana manusia bisa melakukan kesalahan.
Pada akhirnya Pancasila-lah yang lahir sebagai dasar negara,  bersamaan dengan itu Dewan Konstituante, wadah dimana pencetusan ide dasar negara berasal dibubarkan. Dan partai Masyumi, kendaraan politik Buya Hamka hingga bisa mewakili rakyat di Dewan Konstituante pun ikut dibubarkan. Penderitaan yang dialami dari sebuah perjuangan seorang Buya Hamka.
E. Penderitaan, Media Massa dan Seniman 
Media massa selain sebagai penyampai informasi bisa menjadi alat untuk menjatuhkan seseorang ditangan orang-orang yang kurang bertanggung jawab.
Kala itu Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) dan surat kabar yang dikelola oleh para aktivis PKI seperti Bintang Timur terus memfitnah Buya Hamka sebagai plagiat. Novel “Tenggelamnya Kapal Van der Wick” yang ditulisnya dituduh menjiplak karya sastra di Perancis. Lekra membuat isu “skandal sastra terbesar” terkait novel itu. Semua tuduhan itu, tentu saja semata-mata karena kebencian mereka terhadap Hamka sebagai ulama yang berlatarbelakang aktivis Partai Masjumi. Sayangnya, dengan sifat nya yang santun Buya Hamka tidak pernah terprovokasi atas isu tersebut.
Belajar dari Buya Hamka mengenai penderitaan, tak perlu lari darinya tapi cari cara untuk mengatasinya. Dengan berbuat baik dan selalu mendekatkan diri kepada Tuhan YME.
Sekian tulisan ini penulis akhiri, apabila ada kesalahan tulis mohon agar dimaafkan.

Sumber :




 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar